SALAHKAH?
SCENE 1
(Rumah)
INT. Dalam kamar, depan cermin,petang
Di depan sebuah cermin meja rias yang terlihat kotor dan usang terlihat seorang laki-laki (20) yang berdandan ala wanita sedang me-make up wajahnya agar menyerupai wanita.
Setelah merasa sudah cukup cantik restu pun berjalan keluar rumah. Sebelum keluar rumah,restu sempat membalikan sebuah pigura foto yang ada di mejanya.
Scene 2
(Jalan)
2. EXT. Jalan. Maghrib
Sekitar jam 6 maghrib, Restu berjalan keluar rumah dan menuju ketempat dimana dia biasanya mencari nafkah. sunyinya malam dan sesekali suara kendaraan bermotor mengiringi perjalanan Restu. Terlihat langkah Restu yang sangat gemulai dengan ditambah lagi wajahnya yang penuh dengan keikhlasan dan menghayati pekerjaanya itu.
Restu
V.O “Jika bisa memilih, gue engga mau dilahirkan ke dunia. gue engga siap dengan semua ketidakadilan yang dihadapkan ke gue..”
Cut to:
Scene 3
(Emperan)
3. EXT. Emperan toko. malam
Restu mengamen kepada setiap pengguna mobil yang berhenti atau berjalan pelan dengan sesekali mencoba menghentikan mobil dengan melambaikan tangan. Tidak satu pun orang berhenti, akhirnya Restu memutuskan untuk tetap berjalan lebih jauh.
Restu:
V.O “Kadang gue berpikir, Tuhan menciptakan gue hanya sebagai figuran di dunia ini. Figuran itu harus siap diatur dan pasrah dengan keadaan yang ada. Atau hanya sebagai pemeran pengganti, yang harus siap sakit menggantikan kesakitan orang lain. Pendidikan gue cuma sampai kelas 2 SMA. Mungkin gue korban ekonomi, atau bahkan korban pemerintah yang memungut uang sekolah gue buat makan mereka. Engga ada orang tua. Mereka egois. Mereka pisah dan membiarkan gue tumbuh dengan realitas kehidupan yang ada. Engga ada cinta yang menyertai kedewasaan gue. Heem cinta? Gue aja engga percaya dengan cinta.”
Scene 4:
Trotoar jalan
Ext. Jalan,malam
Restu berjalan melewati beberapa tukang ojek dan tukang ojek meledek Restu sekaligus menertawakan Restu.
Kang ojek 1
“Resti, sini doong temenin kita..”
Restu:
“Mau bayar berapa?” (dengan nada sombong bencong)
Tukang ojek 2
“Ah barang imitasi aja disuruh bayar!”
Tukang ojek 3
“Rasanya juga sepet!”
Semua tukang ojek
“Hahahahahaha….”
Restu:
“Iih sembarangan,dikasih juga pada doyan. Iih”
Restu pun berjalan meninggalkan tukang ojek itu.
Scene 5
Pinggir jalan
Ext. jalanan, malam
Restu berjalan di trotoar dengan gayanya yang gemulai dan bertemu dua anak muda yang melecehkan Restu dengan menarik roknya.
Restu
“Haai cowoook..” (dengan mengayunkan tangan seolah memanggil)
Anak muda itu terdiam sejenak saling melihat, lalu salah satu dari mereka mengangguk dan dengan cepat menarik rok Restu lalu keduanya berlari sambil tertawa terbahak bahak.
Anak muda
“Makan nih bencoong, hahahaha….”
Restu
“Iiih kurang ajar deh ih weey…” (dengan nada bencong kesal)
Scene 6
Pinggir jalan
Ext. Pinggir jalan,malam
Saat Restu sedang berjalan dipinggir jalan, ada seseorang yang mengendarai motor tua berhenti menghampiri Restu. Setelah terjadi percakapan singkat akhirnya Restu naik ke motor itu lalu motor itu jalan.
Scene 7
Pinggir kebun
Ext. Pinggir kebun, malam
Restu berjalan sambil bergandengan dengan mesra dengan seseorang yang mengendarai motor tadi keluar dari sebuah kebun, saat sedang bercanda - canda dengan orang itu Restu bertemu dengan seorang wanita yang bernama Dinda (19th) yang sedang membawa tas.
Restu:
“Makasih ya mas, iih seneng deh main sama mas..” (sambil menaruh uang di selipan bh nya).
Dinda berjalan melewati Restu dengan tergesa gesa dan muka tegang. Lalu Restu menegurnya seolah menggoda.
Restu:
“Heei, pulang kuliah kok malem banget?” (dengan nada banci)
Dinda hanya melirik dengan pandangan jijik dan melalui Restu. Restu diam memandangi Dinda. Orang tadi penasaran dan bertanya ke Restu
Si homo:
“Siapa itu, kamu kenal?”
Restu mengelak sambil senyum maksa.
Restu:
(Senyum) “ngga kok mas” (senyumnya hilang sambil memandangi dinda).
Cut to:
Scene 8
Kamar
Int. Dini hari, kamar
Restu menutup lemari seolah selesai ganti baju, dengan setelan cowok dia berjalan ke kasurnya. Saat melewati meja riasnya dia mengambil foto yang ditebalikanya tadi lalu memandanginya sesaat lalu menaruhnya. Setelah itu Restu berbaring dikasur lalu berpikir sejenak dan menggeleng gelengkan kepala, setelah itu tidur.
Scene 9
Kamar
Int. Petang,kamar
Dengan keadaan sudah berdandan, Restu bercermin dan membenarkan posisi wig nya lalu memnerbalikan foto dan berangkat meninggalkan kamar.
Scene 10
Gang senggol
Ext. Gang kecil, petang
Sekitar jam 4 sore Dinda keluar dari rumahnya, pamit dengan ibunya. Lalu saat berjalan Dinda kembali bertemu dengan restu yang sedang menunggu temanya keluar dari rumahnya sambil memegang krecekan seperti bersiap - siap ingin mengamen. Tetapi Dinda hanya melewati Restu dengan tergesa gesa. Sementara itu Restu sudah mengangkat tangan seperti ingin memanggil Dinda tapi dia sudah menghindar terlebih dahulu dan berjalan makin jauh. Lalu teman Restu keluar dari rumahnya. Sementara itu restu hanya bisa menggerutu
Teman restu:
“yuk ciin”
Restu:
V.O “ih sombong banget sih” (gerutu bencong)
Teman restu:
“siapa siih?”
Restu:
“bukan siapa siapaa,yuuuk” (senyum)
Scene 11
Tempat makan
Ext. Tempat makan pinggir jalan. Malam
Malamnya di sebuah tempat makan tenda dipinggir jalan Dinda bersama temanya sedang makan malam, tiba tiba terlihat restu sedang mengamen dengan nyanyian bencong.
Restu:
“Dasar kau keong racun,baru kenal udah ngajak tidur.. makasih maaas…”
Dinda sudah mulai risih, sampai pada akhirnya Restu mengamen di tempat Dinda makan bersama temanya. Teman Dinda pun heran mengapa restu bisa tau nama Dinda.
Restu:
“dindaa,makan ngga ngajak ngajak”
Teman dinda:
“Din, kamu kenal?” (dengan nada heran)
Dinda:
“Hmm.. pulang aja yuk” (mengajak temanya, sambil menarik tangan temanya untuk meninggalkan tempat itu)
Teman dinda:
“Tapi kan makanannya belom dateng?!”
Dinda:
“Gapapa deh, aku mendadak kenyang” (sambil meninggalkan tempat makan itu bersama temanya)
Restu memanggil Dinda tetapi dinda tidak menghiraukan panggilan restu
Restu:
“din,mau kemana? Dindaa” (dengan nada bencong)
Restu mengejar dinda,sementara itu teman Restu kesal karena ditinggal oleh Restu
Teman restu:
V.O “heeh resti,mau kemana heeh. Ih bete banget deh ditinggal tinggal” (gerutu bencong)
Scene 12
Pinggir jalan
Ext. Jalanan. Malam
Dinda pergi dari tempat makan bersama temanya dan dikejar oleh restu. Setelah restu menahan Dinda. Dinda menyuruh temannya untuk pulang terlebih dahulu.
Restu:
“Din, tunggu diin..” (menarik tangan dinda) *nada bencong
Teman Dinda:
“Dia siapa sih din?! (Penasaran).
Dinda:
“kamu pulang duluan aja deh”
Teman dinda:
“Tapi..” (dipotong pembicaraanya oleh dinda)
Dinda:
“udah gapapa,kamu pulang duluan aja ya”
Teman dinda:
“yaudah aku duluan yaa” (dengan wajah heran dan memandang aneh Dinda & Restu)
Teman Dinda pun pergi meninggalkan Dinda dan Restu berdua
Restu:
“Diin..” (dipotong oleh dinda)
Dinda yang mulai panas langsung marah kepada Restu dan tidak memberi Restu kesempatan berbicara.
Dinda:
“kenapa sih kamu gangguin aku terus? Kamu tau kan aku gamau ketemu kamu lagi”
Restu:
“tapi aku..” (dipotong oleh Dinda) *suara bencong
Dinda:
“alaah udah deh.aku tuh malu sama temen - temen,sama semua orang tiap kamu nyapa aku. Kamu liat diri kamu kaya apa!!”
Restu:
“Din aku Cuma..”(dipotong maneh sama dinda) *nada setengah bencong
Dinda:
“aaah,pokoknya jangan pernah nyapa aku lagi, anggap kita engga pernah kenal, aku engga mau liat kamu lagi” (melangkah pergi)
Dinda pun melangkah pergi tapi Restu memegang tangan dinda dengan maksud menahannya.
Saat kejadian ini teringat sesuatu dari Restu. Dia flashback ke masa lalu saat hubungannya dengan Dinda masih sejahtera dan Restu belum bekerja menjadi waria.
Restu:
Din.. (memegang tangan dinda)
Flashback disini dimulai dari restu memegang tangan dinda dan mereka bersenang senang di sebuah taman
Cut back to:
*flashback
Scene 13
Taman
Int. Taman,pagi
Disebuah taman dengan pohon yang rindang nan indah,terlihat suasana hijau disekeliling taman dan dibawah langit yang biru restu memegang tangan dinda dengan tujuan mengajak nya ke suatu taman yang lapang sambil tertawa ceria. Lalu setelah sampai taman yang lapang itu,mereka berdua tiduran bersebelahan ditaman itu dengan posisi berlawanan (bq)
Dinda:
“liat deh awannya, bagus, tenang, kelihatan damai”
Cut to:
Scene ?
Int. Taman
Awan yang tampak tenang dan damai.
Cut back to:
Restu:
(diam tersenyum)
Dinda:
“aku mau deh jadi awan, tenang, kelihatan tanpa masalah” (senyum)
Restu:
“kalo kamu jadi awan, aku bakal terus tiduran disini, melihat betapa cantiknya kamu dari berbagai sisi”
Dinda:
“kamu gak akan tau kalo awan yang kamu pandang cantik itu lagi ada masalah dan sebentar lagi mau mengeluarkan hujannya, dan aku gak sanggup liat kamu sakit karena hujanku” (sambil nyengir)
Restu:
“makanya jangan jadi awan, jadi Dinda aja biar aku gak sakit kena hujan” (nyengir juga)
Dinda:
“Tapi kadang aku cape sama semua masalah, aku mau jadi awan yang damai dan tenang tanpa masalah”
Restu:
“Terkadang awan yang tenang dan damai itu bisa berubah jadi badai, jadi awan pun bisa punya masalah”
Dinda:
(Terpaku terdiam) “huh, Tuhan gak bisa yaa biarin umatnya tanpa masalah?”
Restu:
“Tuhan ciptain masalah pasti ada tujuannya”
Dinda:
“Buat apa Tuhan ciptain masalah padahal Tuhan sendiri mau umatnya hidup damai?”
Restu:
“Tuhan mau kita yang ciptain kedamaian itu sendiri, dan besarnya kedamaian tergantung sama besarnya usaha kita” (tersenyum)
Dinda:
“cuma Tuhan yang tau rasanya jadi aku, dan aku mau Tuhan kasih kedamaian buat aku.”
Restu:
“nah gitu, memang kita harus berserah sama Tuhan atas semua masalah kita”
Dinda:
“Maksud aku, cuma Tuhan yang tau apa yang rasain ketika ada masalah”
Restu:
(Memandang Dinda dan tersenyum) “Cuma aku dan Tuhan, yang bisa sayang sama kamu”
Dinda:
(Tersenyum memandang Restu dan mencubit hidung Restu, lalu beranjak berlari meninggalkan Restu)
Restu pun mengejar dinda,dan pada akhirnya restu menangkap dengan memegang tangan dinda seperti posisi awal restu mengajak dinda ke taman yang lapang itu
Cut back to: scene 12
Restu:
(posisi tangan memegang seperti posisi awal) “Maaf aku bukan lagi seperti Restu yang dulu, aku bukan lagi seperti Tuhan yang bisa sempurna mencintai kamu” (melepaskan tangan dinda lalu pergi meninggalkan dinda) *nada cowo*
Dindapun hanya menangis dan menutup wajah dengan tanganya
Scene 13
Pinggiran jalan
Ext. Trotoar, malam
Restu sedih, duduk di trotoar membuka wig, menghapus make up bencongnya, melepas sebagian pernak pernik yang ada dibadan nya. Sambil menyesali semuanya.
Restu:
V.O “itulah sebabnya mengapa gue ngga percaya cinta,karena buat gue cinta engga bisa menerima keadaan gue ini. Tapi gue belajar 1 hal, bahwa hidup engga bisa dibeli oleh keadaan. Hidup ini bergantung dengan apa yang gue mau, yang gue perbuat, dan apa yang gue hasilkan”.
—————————————————credit title————————————
Last scene
Kamar
Int. Kamar, malam
Restu mengambil fotonya yang bersama dinda lalu dibuang ke tempat sampah










